17 2 / 2012

“Sungguh, saya berharap dia mendapatkan seseorang yang baik. Yang entah kenapa saya yakin, bukan saya. Ada seseorang di sana yang lebih pantas untuk dia. Bukan menyerah, bukan mundur dari pertandingan, bukan pesimis…ketimbang menjadi sesuatu yang lebih, saya memilih tetap menjadi sahabat, dimana kata ‘selamanya’ jauh lebih mungkin diwujudkan.”

Sebaris kalimat tersebut saya tuliskan di blog saya pada 13 Mei 2010, sebagai jawaban saya kepadanya tentang perasaan saya dan hubungan kami. 3 Februari 2011, dia memberikan sebuah ‘titik’, makanya saya sering sebut kejadian itu ‘fullstop moment’. nyatanya bagi saya itu masih ‘koma’. dan kemudian 3 Februari 2012, dia kembali memberikan sebuah ‘titik’, kali ini saya tahu saya benar-benar harus berhenti.