17 2 / 2012

this is me again…dengan penggalauan yang sama. bukan mau saya membagi kesedihan seperti ini, tapi saya harus atau saya ‘meledak’. mungkin ini bisa saya simpan dan saya ceritakan (hanya) kepada teman terdekat saya, tapi nyatanya saya tak bisa seleluasa itu. di luaran, di depan mereka, saya tak bisa menceritakan ‘ini’, hal yang justru mendesak ingin dikeluarkan.

bukan apa-apa. susah rasanya menceritakan ini langsung di depan mereka. bukan berarti wajah tak-ada-apa-apa saya itu palsu, tapi karena memang di depan mereka saya lupa soal ini. sesaat lupa, tepatnya.

kejadian itu hampir 2 minggu yang lalu. tapi rasa sedihnya masih fluktuatif. dan ya, hari ini kelenjar lakrimal saya kembali produktif. saat membuka salah satu situs jejaring sosial, tanpa sengaja saya membaca salah satu status teman saya, yang juga temannya (by the ‘nya’ I mean Mr Fullstop), atau lebih tepatnya mantannya. kemudian meski si teman menuliskannya tersirat, saya tahu itu apa yang dia maksud ‘kabar baik’ itu. dan saya tahu, ada kesedihan ketika dia menuliskannya. tersirat dan tersurat.

haha. saya melupakan fakta ini. bahwa saya bukan satu-satunya yang terpuruk, terseok-seok karena kabar ini, menemukan ‘persamaan’ di antara kami. Bedanya, saya lebih dulu tahu kabar ini. Dan meski saya mengenal Mr Fullstop ini jauh lebih lama dibanding si teman, tapi dia jelas lebih dahulu berbagi rasa (officially) dengan sahabat saya ini.

kelas 4 SD, pertama saya kenal si sahabat ini. berlanjut sampai kami SMP dan SMA, di sekolah yang sama, meski selalu berbeda kelas. mungkin karena inilah, dia menyampaikan ‘kabar baik’ ini kepada saya jauh-jauh hari sebelum kepada teman-temannya yang lain.

saya kembali sedih bukan karena saya tidak mengerti bahwa ini sia-sia untuk ditangisi, bukan karena saya tidak mengerti bahwa memang ‘pintu’ yang ini bukanlah yang terbaik untuk kami…

saya senang kah? saya ragu untuk mengiyakan. saya tidak senang, tapi bukan berarti saya kemudian tak akan mendoakan yang terbaik untuknya. karena kami sahabat, meski saya mungkin tak ada nyali untuk bertemu kembali sebagai sahabat.

“Dalam kehidupan nyata, kebersatuan cinta tidak selalu berarti dua keinginan saling memiliki bertemu pada satu titik. Bahkan, terkadang dua orang yang saling mengasihi sepenuh hati, saling menjaga dalam keterpisahan. Ketidakbersamaan.” - Tasaro GK, Galaksi Kinanthi